JAKARTA, Cakra101.com – Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IHK pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 3,28%.
Bank Indonesia (BI) menilai inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.
Inflasi Inti Tetap Terjaga
Inflasi kelompok inti tetap terjaga. Pada September 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,21% (mtm).
Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi yang tetap terjaga di tengah masih tingginya harga komoditas global. Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi komponen inti adalah biaya kuliah akademi/perguruan tinggi.
Secara tahunan, inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 2,84% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,92% (yoy). Inflasi inti secara tahunan antara lain banyak disumbang oleh komoditas emas perhiasan sejalan dengan kenaikan harga emas dunia.
Inflasi Volatile Food Tetap Terkendali
Kelompok volatile food atau komponen harga pangan bergejolak pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 1,46% (mtm), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,88% (mtm).
Inflasi kelompok volatile food terutama disumbang komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Kondisi tersebut seiring dengan penurunan produksi di beberapa daerah sentra, terutama akibat gangguan cuaca, serta kenaikan biaya input produksi.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 5,03% (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 4,06% (yoy).
Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali, didukung sinergi erat pengendalian inflasi BI bersama TPIP dan TPID, serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), termasuk antisipasi dampak gangguan cuaca ekstrem (El Nino) terhadap harga bahan pangan.
Administered Prices Catat Inflasi Rendah
Kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah pada September 2026 mencatat inflasi rendah mendekati 0% (mtm). Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencatat deflasi sebesar 0,33% (mtm).
Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh bensin dan solar, seiring peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada September 2026, di tengah penurunan tarif angkutan udara.
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat mengalami inflasi sebesar 3,25% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,32% (yoy).
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Departemen Komunikasi Bank Indonesia
Diterbitkan pada: 1 Oktober 2026
(MC101 – Departemen Komunikasi BI)
………………………………………………………………………………..
Ringkasan Berita
- Inflasi IHK September 2026 tercatat 0,30% (mtm) dan secara tahunan mencapai 3,28% (yoy), masih dalam kisaran sasaran 2,5±1%.
- Inflasi inti tercatat 0,10% (mtm) dan 2,84% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
- Kelompok volatile food mengalami inflasi 1,46% (mtm) dan 5,03% (yoy), terutama dipengaruhi cabai, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.
- Kelompok administered prices mencatat inflasi rendah mendekati 0% (mtm) dan inflasi tahunan sebesar 3,25%.
- BI meyakini inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027, didukung sinergi kebijakan dan pengendalian inflasi bersama Pemerintah.
