Beranda / Provinsional / Prov. Jabar / BPS: Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 5,73 Persen, Didorong “Industri dan Konsumsi”

BPS: Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 5,73 Persen, Didorong “Industri dan Konsumsi”

BANDUNG, Cakra101.comEkonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,73 persen (year on year/y-o-y), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen. Capaian tersebut menunjukkan kinerja ekonomi Jawa Barat tetap terjaga dengan dukungan sektor industri dan konsumsi masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa dari sisi produksi, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 18,28 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 40,24 persen.

Kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usaha berasal dari Industri Pengolahan dengan sumbangan positif sebesar 1,96 persen. Adapun dari sisi pengeluaran, kontribusi terbesar diberikan oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang menyumbang pertumbuhan sebesar 3,03 persen.

Secara quarter to quarter (q-to-q), ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 tumbuh 2,25 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib kembali menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,67 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) tumbuh 7,96 persen.


Penduduk Miskin Jawa Barat Terus Menurun

Pada kesempatan yang sama, Margaretha mengungkapkan persentase penduduk miskin di Jawa Barat pada Maret 2026 turun menjadi 6,54 persen, atau menurun 0,24 persen poin dibandingkan September 2025 serta turun 0,49 persen poin dibandingkan Maret 2025.

“Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 sebanyak 3,44 juta orang, berkurang 114,23 ribu orang terhadap September 2025 dan berkurang 218,27 ribu orang terhadap Maret 2025,” kata Margaretha pada acara Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat di Kantor BPS Jawa Barat, Rabu (5/8/2026).

BPS mencatat Garis Kemiskinan pada Maret 2026 sebesar Rp609.790 per kapita per bulan, yang terdiri atas Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp454.174 (74,48 persen) dan Garis Kemiskinan Non Makanan sebesar Rp155.616 (25,52 persen).

“Penurunan persentase penduduk miskin didorong oleh berbagai faktor, salah satunya kesempatan kerja semakin meluas. Serapan tenaga kerja yang bertambah 205,31 ribu orang dari Februari 2026 ke Mei 2026 berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga sehingga daya beli stabil,” ujar Margaretha.

Ia menambahkan, tren kemiskinan di Jawa Barat selama periode Maret 2021–Maret 2026 secara umum terus menurun, baik dari sisi jumlah maupun persentase penduduk miskin, kecuali pada Maret 2022. Saat itu, peningkatan kemiskinan dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar minyak.

Pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 turut mendorong penurunan tingkat kemiskinan secara bertahap sejak Maret 2022 hingga Maret 2026, seiring membaiknya aktivitas ekonomi dan meningkatnya kesempatan kerja di Jawa Barat.

(MC101 – Humas Jabar)

Ringkasan Berita:

  • Ekonomi Jawa Barat triwulan II 2026 tumbuh 5,73 persen (y-o-y), lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,29 persen.
  • Industri Pengolahan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, sedangkan konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama dari sisi pengeluaran.
  • Persentase penduduk miskin turun menjadi 6,54 persen pada Maret 2026 dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,44 juta orang.
  • Perluasan kesempatan kerja dan bertambahnya serapan tenaga kerja menjadi faktor utama penurunan kemiskinan di Jawa Barat.
  • Tren kemiskinan di Jawa Barat terus menurun sejak Maret 2022 seiring pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.
Tag:

Media Sosial

Jelajahi Militer

Hot Topic