JAKARTA, Cakra101.com – Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2026 tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IHK pada Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,22% (mtm).
Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,23% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 3,28% (yoy).
Bank Indonesia (BI) menyebut inflasi yang tetap berada dalam kisaran sasaran merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta kuatnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah pusat maupun daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
Upaya tersebut juga didukung penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.
Inflasi Inti Tetap Terjaga
Inflasi kelompok inti pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,12% (mtm), relatif stabil dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,10% (mtm).
Perkembangan inflasi inti dipengaruhi tekanan eksternal yang masih berlanjut, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran.
Secara tahunan, inflasi inti pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,56% (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 2,84% (yoy).
Inflasi Pangan Melandai, Cabai Masih Beri Tekanan
Kelompok volatile food (pangan bergejolak) pada Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,77% (mtm). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 1,46% (mtm).
Inflasi kelompok ini terutama disumbang komoditas cabai merah dan cabai rawit. Kenaikan harga kedua komoditas tersebut didorong penurunan produksi di sejumlah daerah sentra.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 5,81% (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 5,03% (yoy).
Ke depan, BI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Langkah ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi pangan, termasuk mengantisipasi dampak gangguan cuaca ekstrem atau El Niño terhadap pasokan dan harga bahan pangan.
Tarif Angkutan Udara Jadi Penyumbang Inflasi Administrasi
Kelompok administered prices (harga yang diatur pemerintah) pada Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,09% (mtm). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,00% (mtm).
Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara. Perkembangan tersebut sejalan dengan penerapan tarif fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar) sebesar 40% untuk penerbangan domestik kelas ekonomi.
Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 3,24% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,25% (yoy).
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Departemen Komunikasi Bank Indonesia
Diterbitkan pada: 3 November 2026
(MC101 – Departemen Komunikasi BI)
Ringkasan Berita
- Inflasi IHK Oktober 2026 tercatat 0,22% (mtm), sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,23% (yoy), turun dari 3,28% pada bulan sebelumnya.
- Inflasi inti tercatat 0,12% (mtm) dan 2,56% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi tahunan bulan sebelumnya.
- Kelompok volatile food mengalami inflasi 0,77% (mtm), dengan cabai merah dan cabai rawit menjadi komoditas utama penyumbang inflasi.
- Kelompok administered prices mencatat inflasi 0,09% (mtm), terutama dipengaruhi tarif angkutan udara dan penerapan fuel surcharge sebesar 40%.
- BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.