JAKARTA, Cakra101.com – Semangat “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” menjadi landasan untuk memperkuat sinergi transformasi ekonomi dan keuangan digital. Satu Nusa mengintegrasikan infrastruktur digital nasional agar sistem pembayaran semakin andal dan terkoneksi; Satu Bangsa menyatukan ekosistem ekonomi dan keuangan digital dengan menghubungkan sektor usaha, sektor keuangan, dan pemerintah; sementara Satu Bahasa menstandardisasi bahasa interkoneksi agar berbagai sistem dapat saling terhubung dan berinteroperasi.
Ketiganya memperkuat implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 untuk mewujudkan sistem pembayaran yang semakin efisien, inklusif, dan terjaga stabilitasnya, sekaligus mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti saat membuka High Level Talk (Diskusi Tingkat Tinggi) bertema “Sinergi Kebijakan untuk Mengakselerasi Transformasi Ekonomi dan Keuangan Digital”. Seminar tersebut masih merupakan rangkaian acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit and Expo 2026 (FEKDI x IFSE 2026) di Jakarta, 24 September 2026.
Penguatan konektivitas dan infrastruktur digital perlu berjalan seiring dengan pemanfaatan data untuk mendukung integritas transaksi yang aman dan terpercaya, serta pengembangan inovasi dan talenta digital.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menekankan bahwa transformasi digital perlu diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang semakin terintegrasi, inovatif, dan inklusif.
Melalui BSPI 2030, Bank Indonesia mendorong penguatan Infrastruktur, Industri, Inovasi, Internasional, dan Rupiah Digital (4I-RD). Langkah ini ditopang prinsip interkoneksi, integrasi, dan interoperabilitas (3I). Penguatan tersebut perlu disertai pemanfaatan data, pengembangan talenta digital, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Teknologi menentukan kecepatan transformasi, sementara kolaborasi memastikan kita bergerak selaras menuju tujuan yang sama,” ujar Filianingsih.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menekankan pentingnya pemanfaatan data dalam proses digitalisasi.
“Akses dan infrastruktur digital merupakan fondasi penting, tetapi akses saja tidak cukup. Data perlu dimanfaatkan secara optimal agar digitalisasi dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai ekonomi,” ujar Mari Elka.
Sejalan dengan itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Rini Widyantini mendorong penguatan infrastruktur digital publik, termasuk pertukaran data yang aman dan terpercaya, untuk menghadirkan layanan publik yang semakin terintegrasi.
“Bank Indonesia membangun rel konektivitas pembayaran, OJK menjaga kepercayaan ekosistem keuangan, dan Pemerintah memastikan setiap warga negara memperoleh pengalaman layanan digital yang setara,” ujar Rini.
Semangat tersebut sejalan dengan prinsip “One Nation, One Experience” (Satu Negara, Satu Pengalaman).
Dari sisi sektor keuangan dan dunia usaha, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan Adi Budiarso mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi digital, kepercayaan, dan pendalaman sektor keuangan.
“Inovasi digital, kepercayaan dan pendalaman sektor keuangan perlu berjalan beriringan agar mampu memperluas pembiayaan, memperkaya instrumen keuangan, serta mendorong investasi dan aktivitas produktif sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.”
Sementara itu, Chief Technology Officer (Direktur Teknologi) BPI Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa menekankan pentingnya mengoptimalkan skala dan ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar digitalisasi bermuara pada peningkatan produktivitas dan penciptaan nilai.
Dengan skala dan ekosistem BUMN yang besar, digitalisasi harus mampu menghasilkan value creation (penciptaan nilai) dan memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
FEKDI x IFSE 2026 berlangsung selama tiga hari, pada 24–26 September 2026 di JICC Jakarta, dengan fokus penguatan sinergi nasional pada hari pertama, pengembangan talenta dan inovasi digital pada hari kedua, serta penguatan konektivitas ekonomi dan keuangan digital (EKD) antarnegara pada hari ketiga.
Masyarakat dapat mengikuti berbagai seminar, talkshow (diskusi interaktif), showcase (pameran) inovasi teknologi, digital experience (pengalaman digital), dan sesi jejaring.
FEKDI x IFSE 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang showcase dan kolaborasi, tetapi juga ruang yang mempertemukan kebijakan, inovasi, talenta, serta kebutuhan nyata industri dan masyarakat untuk mempercepat transformasi EKD nasional.
Informasi lengkap mengenai rangkaian acara FEKDI x IFSE 2026 dapat diakses pada situs fekdixifse.co.id.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Departemen Komunikasi Bank Indonesia
Diterbitkan pada: 25 September 2026
(MC101 – DKom BI)
Ringkasan Berita
- FEKDI x IFSE 2026 mengangkat semangat “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” sebagai landasan memperkuat sinergi transformasi ekonomi dan keuangan digital.
- Implementasi BSPI 2030 diarahkan untuk memperkuat sistem pembayaran yang efisien, inklusif, dan terjaga stabilitasnya.
- Penguatan transformasi digital mencakup infrastruktur, data, inovasi, talenta digital, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
- FEKDI x IFSE 2026 berlangsung 24–26 September 2026 di JICC Jakarta, dengan agenda yang berfokus pada sinergi nasional, talenta dan inovasi digital, serta konektivitas EKD antarnegara.
- FEKDI x IFSE 2026 menjadi ruang yang mempertemukan kebijakan, inovasi, talenta, industri, dan kebutuhan masyarakat untuk mempercepat transformasi EKD nasional.
