BEIJING, Cakra101.com – Menteri Pertanian Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Zhang Zhu mengapresiasi capaian sektor pertanian Indonesia dan menyepakati penguatan kerja sama dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Kolaborasi tersebut terutama diarahkan pada peningkatan produksi, transfer teknologi, serta pengembangan komoditas strategis.
Kerja sama Indonesia dan Tiongkok ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas bagi kedua negara.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Mentan Amran dan Zhang Zhu di Beijing, Senin (2/11). Sejumlah agenda strategis dibahas, mulai dari pengembangan bawang putih dari hulu hingga hilir, kolaborasi penelitian dan teknologi pertanian modern, penguatan perdagangan komoditas unggulan, hingga peluang investasi industri pengolahan.
Dalam pertemuan tersebut, Zhang menilai hubungan kerja sama sektor pertanian antara Tiongkok dan Indonesia telah menunjukkan perkembangan positif sejak 2019. Ia juga menyoroti besarnya hubungan perdagangan kedua negara yang menjadi modal penting untuk memperluas kemitraan di bidang pertanian.
Menurut Zhang, nilai perdagangan ekspor-impor Tiongkok dan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar. Berdasarkan penjelasannya dalam pertemuan, angka tersebut setara dengan sekitar 25 persen dari total perdagangan Tiongkok dengan negara-negara di Asia Tenggara.
Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama kelapa sawit dunia.
”Capaian dan potensi tersebut membuka ruang lebih besar bagi Tiongkok dan Indonesia untuk memperdalam kerja sama, termasuk melalui pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan perdagangan komoditas pertanian,” ungkap Zhang.
Mentan Amran menegaskan bahwa kerja sama dengan Tiongkok harus memberikan manfaat konkret bagi sektor pertanian Indonesia. Menurutnya, kemitraan tidak hanya berorientasi pada kelancaran perdagangan, tetapi juga harus memperkuat kemampuan produksi nasional, mempercepat modernisasi pertanian, serta meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan.
“Kita ingin kerja sama ini diperkuat. Untuk komoditas yang kita butuhkan, seperti bawang putih dan kedelai, kita harapkan pasokannya semakin baik. Di sisi lain, kita juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke Tiongkok,” kata Mentan Amran.
Salah satu agenda prioritas yang diusulkan Mentan Amran adalah pengembangan bawang putih secara menyeluruh, mulai dari penyediaan benih, teknologi budi daya, alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan klaster produksi di Indonesia.
Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi dari Tiongkok. Karena itu, Mentan Amran mendorong agar hubungan kedua negara dikembangkan menjadi kemitraan yang turut mendukung peningkatan produksi bawang putih di Indonesia.
“Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia,” ungkap Mentan Amran.
Selain bawang putih, Mentan Amran juga mendorong pengembangan klaster sejumlah komoditas unggulan Indonesia, khususnya kelapa, kopi, dan durian.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar, menjaga kualitas produk, serta meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian Indonesia.
Pada sektor investasi, Mentan Amran menawarkan peluang kepada perusahaan Tiongkok untuk mengembangkan industri pengolahan di kawasan khusus yang telah disiapkan pemerintah. Beberapa sektor yang ditawarkan meliputi industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta industri vaksin untuk pertanian.
Menurut Mentan Amran, kesiapan lahan, legalitas, dan dukungan insentif di kawasan tersebut diharapkan dapat mempermudah investor merealisasikan pembangunan industri di Indonesia.
“Lahannya sudah siap, legalitasnya juga disiapkan. Investor tinggal datang. Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” jelasnya.
Selain pengembangan industri, transfer teknologi menjadi agenda penting lainnya dalam pertemuan bilateral tersebut.
Mentan Amran mendorong penguatan kerja sama di bidang mekanisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta pemanfaatan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian.
Menanggapi usulan tersebut, Zhang menyatakan dukungannya terhadap pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Tiongkok siap memperdalam pembahasan teknis mengenai teknologi produksi, teknik penanaman, serta berbagai aspek budi daya lainnya yang berpotensi dikerjasamakan.
“Kami sangat mendukung pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Kami siap memperdalam pembahasan, terutama terkait teknologi produksi, penanaman, dan aspek teknis lainnya yang dapat dikerjasamakan oleh kedua negara,” ujar Zhang.
Untuk komoditas kopi, kakao, dan kelapa sawit, Zhang menyampaikan bahwa Tiongkok akan mendorong pembentukan kelompok kerja atau working group (kelompok kerja) guna membahas pengembangan kerja sama komoditas unggulan Indonesia tersebut.
Pembahasan teknis melalui kelompok kerja ini diharapkan membantu kedua negara mengidentifikasi berbagai peluang sekaligus merumuskan tindak lanjut kemitraan.
Zhang juga menawarkan penguatan diskusi teknis dan kolaborasi penelitian, termasuk pemanfaatan pesawat nirawak atau drone, robot pertanian, serta kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, Tiongkok menyatakan kesiapan untuk mengorganisasikan delegasi perusahaan guna menjajaki peluang investasi di Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Mentan Amran turut mengusulkan peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Hal ini mengingat kebutuhan susu Indonesia mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
Ia juga mengusulkan pelaksanaan penelitian gandum sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang hingga kini masih bergantung pada impor.
Kedua menteri sepakat bahwa penguatan komunikasi dan pembahasan teknis diperlukan untuk menindaklanjuti berbagai peluang kerja sama tersebut.
Kemitraan Indonesia-Tiongkok diharapkan tidak hanya memperkuat perdagangan, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi nasional melalui transfer teknologi, penelitian, investasi, dan pengembangan industri hilir.
Melalui kerja sama yang semakin konkret, Indonesia mendorong penguatan kedaulatan pangan sekaligus peningkatan daya saing sektor pertanian.
Kolaborasi dengan Tiongkok diharapkan membuka peluang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menghasilkan produk pertanian dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Biro Komunikasi Publik Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Diterbitkan pada: 6 November 2026
(MC101 – Humas Kementan)
Ringkasan Berita
- Menteri Pertanian Tiongkok Zhang Zhu mengapresiasi capaian pertanian Indonesia dan menyepakati penguatan kerja sama dengan Mentan Andi Amran Sulaiman.
- Nilai perdagangan ekspor-impor Tiongkok dan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar.
- Pengembangan bawang putih menjadi salah satu prioritas kerja sama, mengingat sekitar 90 persen kebutuhan Indonesia masih dipenuhi dari Tiongkok.
- Mentan Amran menawarkan peluang investasi industri pengolahan kelapa, rumput laut, dan vaksin pertanian kepada perusahaan Tiongkok.
- Kedua negara mendorong transfer teknologi, penelitian, pengembangan komoditas unggulan, serta penguatan perdagangan untuk mendukung kedaulatan pangan dan daya saing pertanian Indonesia.
Ganti branding Cakra menjadi BhayangkaraKurangi pengulangan ide kerja sama