NAGOYA, Cakra101.com – Pemerintah terus mendorong penguatan industri manufaktur sebagai salah satu pilar transformasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta penguatan rantai pasok dan orientasi ekspor.
Dalam konteks tersebut, industri otomotif memiliki peran strategis karena mempunyai rantai nilai yang panjang dan keterkaitan luas dengan industri komponen, logistik, jasa, serta berbagai sektor pendukung lainnya.
Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Nagoya, Jepang, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso melakukan working visit ke Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT), Jumat (18/09).
Dalam kunjungan tersebut, Susiwijono turut didampingi Vice President/Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) I Nyoman Winaya, Director TMMIN H. Watanabe, dan Advisor BOD TMMIN Bob Azam.
Kunjungan ke TCMIT menjadi kesempatan untuk mempelajari perjalanan Toyota dalam membangun kapabilitas dan kapasitas industri melalui inovasi, pengembangan teknologi, serta penguatan budaya manufaktur.
TCMIT merupakan fasilitas yang didirikan Toyota Group di lokasi yang menjadi cikal bakal perkembangan Toyota. Museum tersebut menampilkan evolusi teknologi dari industri tekstil hingga industri otomotif, sekaligus menekankan pentingnya research, creativity, dan manufacturing dalam pengembangan industri.
Perjalanan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana pengembangan teknologi dan inovasi dapat menjadi fondasi bagi transformasi industri. Pengalaman Toyota dalam mengembangkan teknologi manufaktur dari industri tekstil hingga otomotif juga menunjukkan pentingnya kemampuan industri untuk terus beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.
Sesmenko Susiwijono menyampaikan bahwa pengalaman panjang Toyota dalam mengembangkan industri otomotif memiliki relevansi kuat dengan upaya Indonesia untuk terus meningkatkan daya saing industri manufaktur dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Toyota merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Sesmenko Susiwijono.
Toyota dan Penguatan Industri Otomotif Indonesia
Hubungan Toyota dengan Indonesia telah berkembang selama lebih dari lima dekade dan menjadi bagian penting dari perjalanan industri otomotif nasional.
Toyota Indonesia telah memproduksi 10 juta unit kendaraan, dengan lebih dari 3 juta unit diekspor ke lebih dari 100 negara tujuan ekspor.
Investasi Toyota Group di Indonesia juga telah mencapai sekitar Rp100 triliun, dengan ekosistem yang melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja, serta pencapaian tingkat kandungan lokal (local content) lebih dari 80 persen.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar otomotif, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu basis produksi dan ekspor Toyota ke mancanegara.
Ekosistem Toyota juga didukung oleh lebih dari 240 Pemasok Tier-1 dan 520 Pemasok Tier-2 dan Tier-3, yang turut memperkuat keterkaitan industri dan kemampuan manufaktur nasional.
Pemerintah melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu contoh penting pengembangan industrial ecosystem yang mengintegrasikan investasi, industri komponen, SDM, teknologi, dan ekspor.
Ke depan, penguatan ekosistem tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi transformasi industri menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Mendorong Transformasi Menuju Kendaraan Elektrifikasi
Transformasi industri otomotif juga terus berlangsung seiring dengan perkembangan kendaraan elektrifikasi. Toyota Indonesia terus mengembangkan kemampuan produksi kendaraan elektrifikasi sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.
Pada April 2026, TMMIN mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan investasi sebesar Rp1,3 triliun.
Produksi tersebut mencakup pengembangan sel dan modul baterai, dengan Indonesia diproyeksikan menjadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global mulai semester kedua 2026.
Menurut Sesmenko Susiwijono, pengembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi membuka peluang lebih luas bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri komponen dalam negeri, serta mengembangkan kemampuan SDM dalam teknologi baru.
“Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” lanjut Sesmenko Susiwijono.
Pemerintah akan terus mendorong kolaborasi dengan pelaku industri guna memperkuat daya saing manufaktur nasional, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan kemampuan industri dalam menghadapi perubahan teknologi.
Kunjungan ke TCMIT diharapkan dapat memperkuat dialog antara Pemerintah Indonesia dan Toyota mengenai pengembangan industri manufaktur, inovasi teknologi, penguatan rantai pasok, elektrifikasi kendaraan, pengembangan SDM, dan perluasan ekspor.
Kunjungan tersebut sekaligus diharapkan memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia–Jepang yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.
Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut di antaranya Deputi Bidang Perniagaan dan Industri Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, jajaran Pimpinan TMMIN, dan Tim Kemenko Perekonomian.
(MC101 – Biro KLIP Kemenko Perekonomian)
Ringkasan Berita
- Pemerintah mendorong penguatan industri manufaktur melalui inovasi, teknologi, SDM, rantai pasok, dan orientasi ekspor.
- Kemenko Perekonomian mempelajari pengalaman Toyota dalam pengembangan kapabilitas industri di TCMIT, Nagoya, Jepang.
- Toyota Indonesia telah memproduksi 10 juta unit kendaraan dan mengekspor lebih dari 3 juta unit ke lebih dari 100 negara.
- Investasi Toyota Group di Indonesia mencapai sekitar Rp100 triliun dengan ekosistem lebih dari 360.000 tenaga kerja.
- TMMIN mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi melalui kemitraan dengan CATL dengan investasi Rp1,3 triliun.
- Pemerintah mendorong penguatan rantai pasok, elektrifikasi, SDM, ekspor, dan kemitraan ekonomi Indonesia–Jepang.




