JAKARTA, Cakra101.com – Presiden Prabowo Subianto membahas sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik. Pembahasan tersebut berlangsung dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih pada Selasa, 3 November 2026, di Istana Merdeka, Jakarta.
Dalam keterangannya seusai pertemuan, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap kesiapan pemerintah dalam mengimplementasikan program bioetanol E20.
“Saya kebetulan dari sektor energi. Bapak Presiden menanyakan kesiapan tentang implementasi daripada E20 dalam rangka mendorong ketahanan energi kita,” jelasnya.
Menurut Bahlil, pemerintah telah menyiapkan rencana strategis pengembangan bioetanol mulai dari E20 hingga E50. Pelaksanaan program tersebut akan melibatkan kolaborasi lintas kementerian, terutama Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian.
“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM. Dan menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tau ujungnya ke mana,” katanya.
Selain mengembangkan energi berbasis nabati, pemerintah juga merencanakan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak (storage atau tempat penyimpanan) di sejumlah wilayah Sumatra. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas cadangan minyak nasional, khususnya dalam mendukung kebutuhan penyimpanan minyak mentah impor.
“Di samping itu kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude, itu semuanya bisa ada tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” ucapnya.
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa studi kelayakan pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut telah rampung. Pemerintah akan mulai melakukan peninjauan lokasi pada akhir tahun ini, termasuk memeriksa berbagai aspek keamanan sebelum pembangunan dilaksanakan.
“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” tegasnya.
Melalui pengembangan bioetanol, keberlanjutan program biodiesel B50, serta penguatan cadangan minyak strategis, pemerintahan Presiden Prabowo terus membangun fondasi ketahanan energi nasional.
Indonesia diarahkan untuk semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi, lebih tangguh menghadapi gejolak dunia, serta mampu menjaga kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
Diterbitkan pada: 3 November 2026
(MC101 – BPMI Setpres)
Ringkasan Berita
- Presiden Prabowo Subianto membahas strategi penguatan ketahanan energi nasional dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
- Pemerintah menyiapkan pengembangan bioetanol secara bertahap mulai dari E20 hingga E50 melalui kolaborasi Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian.
- Program biodiesel B50 tetap dipertahankan untuk mendukung ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik.
- Pemerintah merencanakan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di sejumlah wilayah Sumatra dengan target kapasitas cadangan dari lebih dari 20 hari hingga 60 hari.
- Studi kelayakan fasilitas penyimpanan telah rampung. Peninjauan lokasi dan pemeriksaan aspek keamanan direncanakan mulai dilakukan pada akhir tahun ini.
