JAKARTA, Cakra101.com – Subsektor perkebunan terus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor komoditas perkebunan mencapai Rp503,3 triliun atau 93,78 persen dari total ekspor pertanian nasional sebesar Rp536,7 triliun. Capaian tersebut menegaskan posisi perkebunan sebagai penopang devisa sekaligus penggerak industri dan kesejahteraan jutaan pekebun.
Berdasarkan data kinerja Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) per Oktober 2026, ekspor perkebunan tumbuh 11,15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sedangkan impor turun 0,49 persen. Kelapa sawit menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor Rp355,3 triliun, diikuti karet sebesar Rp35 triliun, kelapa Rp29,4 triliun, kakao Rp26 triliun, dan kopi Rp21,5 triliun.
Kinerja positif tersebut juga tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor perkebunan atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp546,3 triliun pada Triwulan II 2026. Nilai itu tumbuh 19,34 persen secara kuartalan dan 3,34 persen secara tahunan, menunjukkan besarnya peran perkebunan dalam aktivitas ekonomi nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, penguatan subsektor perkebunan selama pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran diarahkan untuk meningkatkan produksi, memperkuat hilirisasi, dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan.
Menurutnya, perkebunan bukan hanya menjadi sumber devisa, tetapi juga berperan penting dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri serta meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
“Penguatan produksi dan produktivitas harus terus dilakukan agar kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri. Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, pertanian termasuk perkebunan harus berkontribusi nyata melalui peningkatan produksi, pengembangan hilirisasi, dan peningkatan kesejahteraan pekebun,” kata Mentan Amran dalam keterangannya pada Selasa (20/10/2026).
Salah satu agenda strategis yang terus diperkuat adalah peningkatan produksi tebu untuk mendukung swasembada gula nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan areal, penyediaan benih unggul, peningkatan produktivitas kebun, serta penguatan dukungan budidaya.
Ketersediaan bahan baku tebu yang memadai menjadi fondasi untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Penguatan hilirisasi juga menjadi bagian penting dalam transformasi subsektor perkebunan. Komoditas kelapa, kopi, kakao, lada, pala, jambu mete, dan tebu terus didorong untuk menghasilkan produk olahan bernilai tambah serta memperluas peluang usaha.
Dengan pasokan bahan baku yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas hasil, perkebunan diharapkan tidak hanya menghasilkan komoditas mentah, tetapi juga memperkuat industri pengolahan beserta produk turunannya.
Dampak penguatan subsektor perkebunan turut dirasakan sekitar 18 juta kepala keluarga (KK) pekebun yang mengelola lahan seluas 29 juta hektare. Peningkatan kesejahteraan pekebun tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan pada September 2026 yang naik 7,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Provinsi Bengkulu mencatat indeks NTP tertinggi secara nasional, yakni sebesar 231,6.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan penguatan kinerja perkebunan selama dua tahun terakhir perlu ditopang peningkatan produktivitas dari hulu. Langkah tersebut diperlukan agar manfaat ekonomi dapat menjangkau pekebun sekaligus memenuhi kebutuhan industri hilir.
“Penguatan perkebunan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan baku untuk mendukung hilirisasi. Karena itu, peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, perbaikan kualitas hasil, dan penguatan kelembagaan pekebun menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan,” ungkapnya.
Heru menambahkan, optimalisasi lahan perkebunan melalui pola tumpang sari dengan tanaman pangan dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung ketersediaan pangan, meningkatkan pemanfaatan lahan, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan pekebun.
Untuk melanjutkan penguatan sektor perkebunan, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan memprioritaskan peningkatan produksi dan produktivitas komoditas strategis, pengembangan tebu guna mendukung swasembada gula, serta penguatan pasokan bahan baku bagi industri hilir.
Berbagai upaya tersebut diharapkan semakin memperkokoh kontribusi perkebunan terhadap perekonomian nasional, memperluas nilai tambah di dalam negeri, dan menjaga kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Humas Kementerian Pertanian
Diterbitkan pada: 21 Oktober 2026
(MC101 – Humas Kementan)
Ringkasan Berita
- Nilai ekspor komoditas perkebunan hingga Agustus 2026 mencapai Rp503,3 triliun, setara 93,78 persen dari total ekspor pertanian nasional.
- Ekspor perkebunan tumbuh 11,15 persen secara tahunan, sementara impor turun 0,49 persen. Kelapa sawit menjadi kontributor ekspor terbesar dengan nilai Rp355,3 triliun.
- PDB subsektor perkebunan mencapai Rp546,3 triliun pada Triwulan II 2026, tumbuh 19,34 persen secara kuartalan dan 3,34 persen secara tahunan.
- Sekitar 18 juta KK pekebun mengelola lahan seluas 29 juta hektare. NTP Perkebunan pada September 2026 meningkat 7,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
- Kementerian Pertanian memprioritaskan peningkatan produktivitas komoditas strategis, pengembangan tebu untuk mendukung swasembada gula, dan penguatan bahan baku bagi industri hilir.