JAKARTA, Cakra101.com – Kesejahteraan nelayan menjadi salah satu perhatian Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam dua tahun kepemimpinan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang terintegrasi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dengan semangat 2 Tahun Gerak Nyata, KNMP menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat sektor pangan nasional.
Program ini telah berjalan sejak 2025 sebagai program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). KNMP digagas sebagai salah satu Program Strategis Nasional yang tertuang dalam Asta Cita. Selain itu, KNMP termasuk program prioritas sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional.
Secara umum, program ini bertujuan mengembangkan kawasan pesisir dan kampung budidaya agar menjadi pusat ekonomi kelautan yang berdaya saing, berkelanjutan, dan produktif. KNMP beroperasi dengan basis komunitas serta mengintegrasikan seluruh rantai ekosistem dalam satu kawasan, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.
Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tanggal 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa KNMP akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung kegiatan perikanan. Fasilitas tersebut meliputi pelabuhan, dermaga, tempat pelelangan ikan, ruang penyimpanan dingin, bengkel, fasilitas pengolahan hasil laut, perumahan, dan fasilitas sosial.
“Nilai perikanan kita setiap tahun adalah sekitar US$ 34 miliar, baru mungkin 5% yang dapat kita nikmati, sisanya diambil oleh kapal-kapal negara lain tanpa izin kita,” ujar Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Gedung Nusantara, Jumat, 14 Agustus 2026.
Sejak 2025, pemerintah telah membangun 100 kampung nelayan yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahap pertama, sebanyak 65 KNMP telah beroperasi, sedangkan 35 lainnya masuk dalam pembangunan tahap kedua.
Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 KNMP di seluruh Indonesia hingga 2029. Pelaksanaannya akan mempertimbangkan kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, dan potensi ekonomi setiap kawasan pesisir.
Dari sisi anggaran, Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mendukung pembangunan KNMP hingga Rp1,1 triliun pada 2025. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan kawasan dan fasilitas penunjang kegiatan nelayan.
Produktivitas dan Pendapatan Nelayan Meningkat
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan KNMP Samber-Binyeri di Kabupaten Biak Numfor, Papua, sebagai proyek percontohan. Kehadiran KNMP membawa perubahan positif terhadap produktivitas dan kehidupan nelayan di kawasan tersebut.
Berdasarkan data KKP, produksi ikan meningkat 121 persen, dari 552 kilogram per bulan menjadi 1.221 kilogram per bulan. Seiring kenaikan produksi, penjualan ikan dan pendapatan nelayan juga mengalami peningkatan.
Penjualan ikan naik 90 persen, dari Rp10,8 juta per bulan menjadi Rp20,5 juta per bulan. Sementara itu, pendapatan nelayan meningkat 89 persen, dari Rp6,06 juta per bulan menjadi Rp11,43 juta per bulan. Berkat dukungan fasilitas melaut di KNMP, nelayan juga dapat melaut lebih lama, dari sebelumnya sembilan hari menjadi 13 hari.
Peningkatan produktivitas tersebut mampu memenuhi kebutuhan konsumsi lokal sekaligus memungkinkan hasil tangkapan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, telah dilakukan 15 kali pengiriman dengan total 231 ton ikan senilai Rp4,36 miliar. Pengiriman tersebut mencakup tujuan Jakarta, Semarang, Bitung, dan Surabaya.
Keberhasilan serupa dirasakan nelayan di Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang telah beroperasi sejak Mei 2026. Dalam waktu empat bulan, rata-rata pendapatan nelayan di kawasan tersebut meningkat dari Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan.
Kegiatan operasional KNMP Tongke-Tongke juga berhasil menyerap 39 tenaga kerja lokal dan menarik total 80 anggota koperasi.
Tidak hanya memasarkan ikan segar, KNMP Tongke-Tongke juga mengolah tuna segar menjadi tuna loin (potongan daging tuna tanpa tulang). Produk tersebut telah dikirimkan sebanyak 65 ton dengan nilai Rp2,54 miliar melalui mitra koperasi.
Terbaru, pada 27 September 2026, kampung nelayan tersebut kembali mengirimkan 12 ton tuna loin ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku unit pengolahan ikan.
Ketua Satuan Tugas Operasionalisasi KNMP, Irjen Pol Victor Gustaaf Manoppo, menjelaskan bahwa konsistensi pengiriman produk perikanan dari kawasan tersebut menunjukkan berkembangnya ekosistem bisnis perikanan di daerah.
“Ini tentu membawa dampak ekonomi yang lebih baik kepada para nelayan sekitar,” ujar Victor.
Bupati Sinjai Ratnawati Arif menilai kehadiran KNMP memberikan peluang untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir. Fasilitas penyimpanan dingin, pengolahan hasil tangkapan, dan jaringan pemasaran membantu meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas pilihan usaha masyarakat.
Ratnawati menyebut program tersebut berpotensi meningkatkan produksi perikanan dan pendapatan nelayan apabila fasilitas dikelola secara optimal.
“Program ini (KNMP) diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan rata-rata hingga kurang lebih 800 ton per tahun per lokasi dan mampu menaikkan pendapatan nelayan hingga 75 persen,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah akan terus memperluas pembangunan KNMP secara bertahap untuk mencapai target 5.000 kampung nelayan pada 2029. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan nasional, membuka lebih banyak lapangan kerja, serta menjadikan kawasan pesisir sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dengan demikian, transformasi sektor kelautan dan perikanan tidak hanya tercermin dari peningkatan hasil produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan nelayan.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Humas Kementerian Sekretariat Negara
Diterbitkan pada: 20 Oktober 2026
(MC101 – Humas Kemensetneg)
Ringkasan Berita:
- Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029, setelah membangun 100 kampung sejak 2025.
- KNMP Samber-Binyeri di Kabupaten Biak Numfor, Papua, mencatat kenaikan produksi ikan 121 persen, penjualan 90 persen, dan pendapatan nelayan 89 persen.
- Sebanyak 231 ton ikan senilai Rp4,36 miliar telah dikirimkan melalui 15 kali pengiriman ke sejumlah daerah di Indonesia.
- KNMP Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, meningkatkan rata-rata pendapatan nelayan dari Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan dalam empat bulan operasional.
- APBN mendukung pembangunan KNMP hingga Rp1,1 triliun pada 2025, dengan program ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan, membuka lapangan kerja, dan mendorong ekonomi pesisir.



