JAKARTA, Cakra101.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengunjungi penerima bantuan Program Bedah Rumah di Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, pada Minggu (18/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Maruarar untuk pertama kalinya menggunakan mobil dinas Maung untuk melihat langsung kondisi rumah warga penerima bantuan.
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan bantuan perbaikan rumah diberikan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria, baik berdasarkan kondisi sosial ekonomi maupun tingkat kerusakan hunian.
Salah satu rumah yang ditinjau adalah milik Masulah (48), seorang juru masak di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan. Ia tinggal bersama suami dan lima anaknya yang masih bersekolah di rumah seluas 45 meter persegi.
Suami Masulah saat ini tidak lagi bekerja karena mengalami stroke ringan. Masulah juga mengaku belum pernah menerima bantuan di sektor perumahan sejak tinggal di rumah tersebut.
Kondisi rumah Masulah cukup memprihatinkan. Struktur bangunan, mulai dari pondasi, sloof, kolom, hingga ring balok, sudah rapuh dan tidak kokoh. Rangka atap kayu juga dalam kondisi rapuh, sebagian besar dinding mengalami keretakan, lantai plester pecah, dan atap asbes rusak berat.
Ketika hujan turun, air kerap masuk ke dalam rumah. Sementara itu, dinding yang tidak ditopang struktur bangunan yang kuat membuat kondisi hunian semakin mengkhawatirkan.
“Kalau hujan, air dari jalan masuk ke rumah. Atap juga bocor, tidak ada pondasi, jadi temboknya goyang. Harapannya dinding rumah bisa lebih kokoh dan semoga rumah saya juga bisa punya lantai yang lebih baik,” ujar Masulah.
Dua Aspek Jadi Penentu Bantuan Bedah Rumah
Selain rumah Masulah, Maruarar juga meninjau hunian milik Nusrobah (55), seorang asisten rumah tangga yang berpenghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Ia tinggal bersama dua anaknya di rumah seluas 37 meter persegi.
Rumah Nusrobah mengalami kerusakan pada bagian struktur bangunan dan rangka atap. Sebagian dinding berupa tembok yang retak dan papan, sedangkan lantai plester mengalami kerusakan berat. Atap asbes yang sudah lapuk juga sering bocor dan berisiko ambruk.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kedua penerima bantuan tersebut memenuhi kriteria berdasarkan kondisi sosial ekonomi dan keadaan tempat tinggal. Masulah tercatat berada pada desil 1, sedangkan Nusrobah berada pada desil 2 dengan penghasilan di bawah upah minimum provinsi (UMP).
Kondisi sosial ekonomi dan kelayakan fisik rumah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan penerima bantuan, sehingga program dapat menjangkau keluarga yang benar-benar membutuhkan.
Maruarar menyampaikan keprihatinannya atas masih banyaknya rumah tidak layak huni di Rorotan. Ia menegaskan pemerintah terus meningkatkan jumlah rumah yang diperbaiki, meskipun belum seluruh rumah tidak layak huni dapat ditangani sekaligus.
“Saya mohon maaf karena kita belum bisa memperbaiki seluruh rumah tidak layak huni. Namun, kita terus meningkatkan jumlahnya. Tahun lalu di Jakarta ada 158 rumah yang diperbaiki, sedangkan tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 10.300 rumah,” ujar Maruarar.
Ia kembali menekankan pentingnya ketepatan sasaran dalam pelaksanaan Program Bedah Rumah. Pemerintah mempertimbangkan dua aspek utama, yaitu kondisi ekonomi keluarga dan kondisi fisik rumah, agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang paling membutuhkan.
“Tadi saya mengunjungi dua rumah dan penghasilan keluarganya di bawah UMP. Kita harus memastikan penerimanya tepat sasaran. Kita lihat kondisi ekonominya memang terbatas, dan kondisi rumahnya juga memang tidak layak huni,” ungkapnya.
2.500 Keluarga di Rorotan Tinggal di Rumah Tidak Layak Huni
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, terdapat sekitar 2.500 keluarga dengan rumah tidak layak huni di Kelurahan Rorotan. Sementara itu, jumlah rumah tidak layak huni di Jakarta Utara mencapai 174 ribu unit.
Pada 2026, Jakarta Utara memperoleh alokasi 2.000 unit Program Bedah Rumah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Pengerjaan rumah bagi para penerima bantuan dijadwalkan berlangsung mulai 26 Oktober hingga 26 Desember 2026.
Melalui Program Bedah Rumah, Kementerian PKP terus mendorong peningkatan kualitas hunian masyarakat. Pemerintah juga memastikan bantuan diberikan secara tepat sasaran, dilaksanakan secara transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi keluarga yang membutuhkan.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Biro Komunikasi Publik Kementerian Perumahan Kawasan dan Pemukiman
Diterbitkan pada: 19 Oktober 2026
(MC101 – Biro Komunikasi Publik PKP)
…..
Ringkasan Berita
- Menteri PKP Maruarar Sirait meninjau penerima Program Bedah Rumah di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, pada Minggu (18/10/2026), menggunakan mobil dinas Maung.
- Dua penerima bantuan, Masulah dan Nusrobah, memiliki penghasilan sekitar Rp2,5 juta dan Rp1 juta per bulan, serta tinggal di rumah dengan kondisi rusak dan tidak layak huni.
- Penentuan penerima bantuan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi dan kondisi fisik rumah. Masulah tercatat pada desil 1, sedangkan Nusrobah pada desil 2.
- Jakarta mencatat peningkatan jumlah rumah yang diperbaiki dari 158 unit pada tahun lalu menjadi 10.300 unit tahun ini.
- Jakarta Utara memperoleh alokasi 2.000 unit Program Bedah Rumah pada 2026, dengan pengerjaan dijadwalkan berlangsung 26 Oktober–26 Desember 2026.


