JAKARTA, Cakra101.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terus mendorong penguatan tata kelola perdagangan strategis melalui pengembangan Strategic Trade Management (STM). Langkah ini ditujukan untuk memastikan perdagangan barang dan teknologi strategis dapat berlangsung secara aman dan terpercaya, sekaligus tetap mendukung daya saing serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengembangan STM juga berkaitan dengan upaya Pemerintah memperkuat industri berbasis teknologi strategis yang membutuhkan akses terhadap barang, teknologi, serta rantai pasok global.
Penguatan tata kelola STM sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendorong pengembangan kembali industri semikonduktor di tanah air. Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui berbagai langkah penguatan ekosistem semikonduktor nasional yang turut didorong Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk memperkuat kemandirian industri sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
“Kita harus mencari sektor-sektor baru untuk bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi di 6% di tahun depan. Dan 2028 kita juga harus terus mencari sektor-sektor baru untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 7-8%. Dan sektor-sektor baru itu tentu dari realisasi, transformasi digital, inovasi, serta pengembangan industri berbasis teknologi tinggi. Dalam menjalankan agenda tersebut Indonesia senantiasa terbuka untuk membuka kerjasama dan dengan berbagai mitra,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon saat menyampaikan keynote remarks pada Industry Outreach Day, rangkaian Indonesia Strategic Trade Management Summit (IDSTM/SEAFEC 2026) di Jakarta, (Selasa, 15/09/2026).
Menurut Deputi Ali, kebutuhan terhadap STM semakin relevan seiring berlangsungnya transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Indonesia kini mendorong sumber pertumbuhan baru melalui industri berbasis teknologi dan inovasi. Sektor yang menjadi bagian dari dorongan tersebut antara lain semikonduktor, kecerdasan artifisial (artificial intelligence), pusat data, serta berbagai teknologi baru yang akan semakin menentukan daya saing nasional.
Deputi Ali menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi masa depan, tetapi juga harus menjadi bagian dari rantai nilai yang menciptakan teknologi tersebut.
Dalam implementasinya, STM tidak ditujukan untuk membatasi perdagangan. Sebaliknya, tata kelola tersebut menjadi instrumen untuk membangun perdagangan yang aman dan terpercaya.
Tata kelola STM juga diperlukan untuk memastikan barang dan teknologi strategis yang memiliki potensi penggunaan ganda (dual-use) tidak dialihkan untuk kegiatan yang berpotensi merugikan keamanan nasional maupun internasional.
Ekspor perangkat semikonduktor dan sirkuit terpadu elektronik Indonesia telah mencapai sekitar USD4,1 miliar pada 2025, meningkat pesat dibandingkan USD1,5 miliar pada 2024.
“Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa perdagangan yang sah tetap dapat berjalan, namun pada saat yang sama risiko pengalihan dan penyalahgunaan dapat dikelola dengan baik. Jadi untuk Indonesia kita melihat ini penting karena Indonesia sedang mendorong transformasi ekonomi menuju industri dengan teknologi dan nilai tambah yang semakin tinggi,” tegas Deputi Ali.
Untuk memperkuat kesiapan penerapan STM, Pemerintah mendorong kerja sama dengan Amerika Serikat melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan dukungan teknis.
Kerja sama tersebut juga mendukung pengembangan sejumlah sektor strategis, seperti semikonduktor, kedirgantaraan, dan energi. Dukungan dilakukan antara lain melalui penguatan ekosistem industri, teknologi, serta kapasitas talenta nasional.
Pelibatan dunia usaha juga menjadi bagian penting dalam pengembangan STM, terutama untuk memberikan masukan mengenai kondisi di lapangan, kebutuhan industri, serta potensi tantangan dalam implementasinya.
Masukan tersebut diharapkan mendukung penerapan tata kelola STM secara tepat sehingga tetap sejalan dengan kebutuhan perdagangan, investasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan industri nasional.
Di penghujung sambutannya, Deputi Ali menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Industry Outreach sebagai bagian dari rangkaian South East Asia Financial and Economic Cooperation (SEAFEC).
Menurutnya, forum tersebut dapat memperkuat kolaborasi serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan perdagangan di kawasan.
Deputi Ali juga menilai forum seperti SEAFEC memiliki peran penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan. Sinergi tersebut khususnya diarahkan untuk mendorong terciptanya ekosistem perdagangan yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan.
“Saya mendorong para pelaku usaha dan asosiasi untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi hari ini. Kami mengharapkan masukan dari dunia usaha, khususnya mengenai kondisi dan kebutuhan di lapangan, potensi tantangan dalam implementasi, serta aspek-aspek yang perlu menjadi perhatian Pemerintah dalam mengembangkan STM di Indonesia,” pungkas Deputi Ali.
Sebagai informasi, Industry Outreach Day mengusung tema “Industry-Government Partnership for Strategic Trade Security”. Forum ini menjadi ruang dialog antara Pemerintah dan dunia usaha untuk membahas penguatan tata kelola STM, termasuk transparansi due diligence dan pemenuhan standar internasional.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Kementerian/Lembaga, perwakilan diplomatik, termasuk Chargé d’Affaires Kedutaan Besar AS Joy M. Sakurai, serta perwakilan U.S. Department of State Renee Sonderman.
Selain itu, kegiatan dihadiri lebih dari 200 pemimpin asosiasi industri dan pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari semikonduktor, elektronik, kimia, bioteknologi, hingga pertahanan.
(MC101 – Biro KLIP Kemenko Ekon)
Ringkasan Berita
- Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian memperkuat Strategic Trade Management (STM) untuk memastikan perdagangan barang dan teknologi strategis berlangsung aman dan terpercaya.
- Penguatan STM sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pengembangan kembali industri semikonduktor di Indonesia.
- Ekspor perangkat semikonduktor dan sirkuit terpadu elektronik Indonesia mencapai sekitar USD4,1 miliar pada 2025, naik dari USD1,5 miliar pada 2024.
- Pemerintah mendorong kerja sama dengan Amerika Serikat melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan dukungan teknis untuk kesiapan penerapan STM.
- Industry Outreach Day menjadi forum pemerintah dan dunia usaha untuk membahas tata kelola STM, transparansi due diligence, dan pemenuhan standar internasional.
Foto: Dok KLIP Kemenko Ekon




