JAKARTA, Cakra101.com – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung terus mendorong percepatan pendalaman pasar keuangan nasional sebagai tumpuan utama pembiayaan pembangunan. Dalam Peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan di Bursa Efek Indonesia (BEI), ia menyebut total kebutuhan investasi Indonesia dalam APBN 2027 mencapai Rp8.705 triliun.
Sementara itu, APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp459 triliun, ditambah kontribusi BUMN termasuk Danantara sebesar Rp330 triliun. Sisanya, sebagian besar harus berasal dari sumber pembiayaan swasta, yaitu Rp7.973 triliun atau sekitar 91 persen berasal dari pembiayaan swasta, baik perbankan maupun pembiayaan lain termasuk pasar modal.
“Nah, di sinilah pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan,” tegas Juda Agung pada Senin, 10/8/2026 di Jakarta.
Menurutnya, keberadaan pasar modal menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, Wamenkeu Juda mendorong terwujudnya pasar modal Indonesia yang dalam, liquid, terpercaya, serta kredibel sehingga dapat berperan secara optimal dalam memfasilitasi investasi dan mendukung target-target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Meski lebih dari Rp125 triliun telah berhasil dihimpun selama semester I 2026, dengan jumlah investor pasar modal mencapai 28 juta investor, ia meminta para pelaku industri untuk tidak berpuas diri.
“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang tengah dijalankan oleh OJK dan BI, mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar yang tercakup dalam rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Wamenkeu Juda Agung mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas pada Senin, 10/8/2026 sebagai salah satu langkah konkret memperluas ragam instrumen dan memperkuat likuiditas pasar modal agar semakin bersaing di tingkat regional maupun global.
Menurutnya, di pasar modal global, minat terhadap ETF berbasis emas meningkat. Ia menyebut, pada 2025, aset kelolaan ETF emas global mencapai US$559 billion dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.
Wamenkeu menekankan bahwa karena ETF Emas memiliki underlying berupa fisik emas riil, maka kepercayaan investor terhadap aspek penyimpanan, valuasi, serta akuntabilitas transaksi menjadi sebuah harga mati.
“Inovasi membutuhkan integritas, dan integritas adalah fondasi dari kepercayaan (trust),” ucapnya.
Ia pun berharap peluncuran ETF Emas ini tidak hanya membesarkan ukuran pasar modal Indonesia, tetapi juga menjadikannya lebih dalam, inklusif, prudent, dan kredibel demi mendukung target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Pasar yang dalam membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan integritas. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan. Mari kita bersama membangun dan menjaga kepercayaan tersebut,” pungkasnya.
(MC101 – Biro KLI Kemenkeu)
Ringkasan Berita:
- Wamenkeu Juda Agung mendorong percepatan pendalaman pasar keuangan sebagai tumpuan pembiayaan pembangunan Indonesia.
- Kebutuhan investasi Indonesia dalam APBN 2027 mencapai Rp8.705 triliun, dengan sekitar 91 persen bersumber dari pembiayaan swasta.
- Pasar modal dinilai strategis untuk menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat.
- Lebih dari Rp125 triliun telah dihimpun sepanjang semester I 2026 dengan jumlah investor mencapai 28 juta.
- Wamenkeu mengapresiasi peluncuran ETF Emas sebagai langkah memperluas instrumen dan memperkuat likuiditas pasar modal Indonesia.