JAKARTA, Cakra101.com – Pemerintah terus memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan beras, serta kebijakan yang berpihak kepada petani. Berbagai langkah strategis tersebut menunjukkan hasil positif, dengan stok beras nasional pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton, yang disebut sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan capaian tersebut dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026.
“Kemudian sekarang 2026 stok kita pada bulan Oktober itu 4,56 juta ton tertinggi sepanjang sejarah. Bahkan pernah mencapai 5,7 juta ton,” ujar Mentan Amran.
Mentan Amran memastikan penguatan ketahanan pangan juga didukung potensi produksi padi yang masih berada di lahan atau standing crop (tanaman yang masih tumbuh dan belum dipanen), dengan estimasi mencapai 10 juta ton. Selain itu, persediaan di sektor hotel, rumah tangga, dan lainnya diperkirakan sekitar 10 juta ton, sedangkan stok di gudang mencapai sekitar 4,5 juta ton.
Dengan kebutuhan beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, pemerintah memperkirakan ketersediaan pangan tersebut mampu mencukupi kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan.
“Kebutuhan per bulan itu 2,5 juta ton. Artinya apa? Kalau 25 juta ton bagi 2,5 itu 10 bulan. Sampai bulan Juli tahun depan stok kita aman,” jelasnya.
Kesejahteraan Petani Meningkat, NTP Capai 131
Selain menjaga ketersediaan pangan, pemerintah terus meningkatkan kesejahteraan petani melalui kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen dan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah.
Kebijakan tersebut turut mendorong Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 131, yang menurut Mentan Amran merupakan capaian tertinggi sejak kemerdekaan.
“Kemudian HPP harga gabah beras naik, sehingga sekarang NTP-nya nilai tukar petani 131 dan ini tertinggi sejak 92 bahkan sejak Merdeka,” ungkap Mentan Amran.
Penguatan sektor pertanian juga tercermin dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian sebesar 5,74 persen. Di sektor perdagangan, pemerintah mencatat kenaikan nilai ekspor pertanian sebesar Rp166 triliun dan penurunan impor sebesar Rp41 triliun.
Pemerintah Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Mineral
Untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan, pemerintah menyiapkan pengembangan lahan mineral seluas 2 juta hektare. Pada tahap awal, penggarapan akan dilakukan terhadap 500 ribu hektare melalui sinergi Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas produksi pangan nasional seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
“Lahannya ini 2 juta hektare, kami sudah siapkan petanya untuk mencukupi pangan kita untuk penduduk 500 juta orang ke depan,” kata Mentan Amran.
Di tengah berbagai capaian tersebut, pemerintah tetap memperkuat langkah antisipasi terhadap perubahan iklim, termasuk dampak El Niño dan La Niña, serta menjaga stabilitas harga pangan.
Pengawasan distribusi komoditas juga terus ditingkatkan menyusul anomali harga ayam dan telur. Kondisi tersebut terjadi ketika harga di tingkat peternak mengalami penurunan, sementara harga di tingkat konsumen justru melampaui harga eceran tertinggi.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pertanian telah berkoordinasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk menindak dugaan praktik yang merugikan masyarakat. Pemerintah juga mendorong peningkatan penyerapan telur melalui program pangan nasional guna menjaga keseimbangan pasokan dan harga, baik di tingkat peternak maupun konsumen.
“Tetapi harga di konsumen itu naik melebihi harga eceran tertinggi. Jadi ada anomali izin Bapak Presiden, kami sudah kirim surat ke Pak Kapolri agar semua yang bermain-main ditindak,” tegas Amran.
Pemerintah Soroti Harga Beras Premium Fortifikasi
Pemerintah turut memberikan perhatian terhadap dugaan penyimpangan harga beras premium fortifikasi yang ditemukan dijual hingga Rp56.000 per kilogram, jauh di atas harga Rp13.000 per kilogram.
Pemerintah berkomitmen menindaklanjuti temuan tersebut untuk melindungi konsumen sekaligus menjaga tata niaga pangan yang sehat.
“Dan ini tidak benar Bapak Presiden. Insyaallah dalam waktu dekat kami selesaikan,” pungkas Mentan Amran.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
Diterbitkan pada: 23 Oktober 2026
(MC101 – BPMI Setpres)
Ringkasan Berita
- Stok beras nasional pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton, disebut sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah, dengan kebutuhan beras sekitar 2,5 juta ton per bulan.
- Pemerintah menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen dan menaikkan HPP gabah. Kebijakan tersebut turut mendorong NTP mencapai 131, yang disebut sebagai rekor tertinggi sejak kemerdekaan.
- PDB pertanian tumbuh 5,74 persen, nilai ekspor pertanian meningkat Rp166 triliun, dan impor turun Rp41 triliun.
- Pemerintah menyiapkan pengembangan lahan mineral seluas 2 juta hektare, dengan tahap awal penggarapan 500 ribu hektare bersama Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, dan TNI.
- Pemerintah memperkuat pengawasan harga dan distribusi pangan, termasuk menindaklanjuti anomali harga ayam dan telur serta dugaan penyimpangan harga beras premium fortifikasi yang mencapai Rp56.000 per kilogram.
