JAKARTA, Cakra101.com — Kementerian Pertanian mendorong penerapan metode pengelolaan air sawah yang lebih efisien melalui Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi, pada Kamis (26/3/2026).
Teknologi ini menjadi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada efisiensi penggunaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui metode AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi kekurangan air.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air merupakan faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan.
“Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Kepala BRMP Fadjry Djufry menyampaikan bahwa AWD merupakan inovasi adaptif untuk menjawab tantangan musim kemarau.
“Teknologi ini memungkinkan petani menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan pada penggenangan terus-menerus,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini dikembangkan oleh International Rice Research Institute sejak 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak 2013. Hasil uji selama enam musim tanam menunjukkan efisiensi air mencapai 17–20 persen.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa metode ini tidak hanya menghemat air, tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan, seperti memperbaiki struktur tanah dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, menjelaskan bahwa penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang.
Pemantauan dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon yang berfungsi seperti piezometer, untuk mengukur kedalaman air di dalam tanah.
“Pengairan dilakukan kembali saat muka air turun sekitar 10–15 cm di bawah permukaan tanah, lalu air diberikan hingga mencapai 3–5 cm,” jelasnya.
Siklus ini dilakukan berulang dengan penyesuaian kondisi cuaca dan fase pertumbuhan tanaman, terutama pada fase kritis seperti pemupukan hingga pembungaan.
Penerapan metode AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperkuat ketahanan tanaman terhadap kekeringan, serta berpotensi meningkatkan hasil panen.
Sebagai bagian dari konsep climate smart agriculture, metode ini diharapkan mampu menjaga produktivitas padi sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian di tengah tantangan perubahan iklim.
(MC101 – Humas Kementan)





















