JAKARTA, Cakra101.com – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mendorong perusahaan teknologi Amerika Serikat memperluas investasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia. Kontribusi tersebut diharapkan mencakup penciptaan peluang ekonomi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, hingga pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki layanan publik.
Dalam pertemuan dengan delegasi US-ASEAN Business Council (USABC), Meutya menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi untuk memperluas infrastruktur digital, tetapi juga kolaborasi yang menghasilkan transfer pengetahuan, pengembangan talenta, serta pemerataan akses inovasi, termasuk bagi masyarakat di wilayah perdesaan.
“Pembangunan digital tidak cukup hanya menghubungkan masyarakat dengan internet. Konektivitas harus membuka peluang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperbaiki pelayanan publik. Tanpa manfaat tersebut, potensi pembangunan infrastruktur digital belum dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Meutya di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).
Meutya menjelaskan bahwa arah transformasi digital Indonesia bertumpu pada tiga prinsip, yaitu Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Ketiganya menjadi landasan agar perluasan konektivitas berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas masyarakat sekaligus pelindungan dalam pemanfaatan teknologi.
Melalui prinsip tersebut, pemerintah ingin memastikan investasi digital tidak hanya menghasilkan pertumbuhan industri, tetapi juga memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan.
“Hubungan kita akan semakin baik apabila kita terus memperhatikan transfer pengetahuan dan peningkatan keahlian dalam berbagai pengembangan digital yang dilakukan di Indonesia,” kata Meutya.
Karena itu, Kemkomdigi mendorong perusahaan teknologi Amerika Serikat memperluas kontribusinya melalui pengembangan talenta digital, peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta penerapan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Inovasi AI Perlu Diimbangi Kepastian Regulasi dan Pelindungan Publik
Pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) turut menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut. Meutya menegaskan bahwa Indonesia terbuka terhadap inovasi dan investasi AI dengan tetap mengedepankan keamanan, pelindungan anak, serta pelindungan data pribadi.
Menurutnya, besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadikan pengembangan AI sebagai peluang strategis sekaligus tanggung jawab yang membutuhkan tata kelola secara jelas.
“Indonesia perlu terus mengembangkan AI dan memanfaatkan peluang yang ditawarkannya. Namun, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, kita juga harus memastikan adanya aturan dan mekanisme perlindungan yang memadai agar teknologi ini dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab,” tegas Meutya.
Dalam penyusunan kebijakan digital, termasuk peta jalan AI nasional, Kemkomdigi berkomitmen membuka ruang dialog bersama pelaku industri dan berbagai pemangku kepentingan.
Meutya menekankan bahwa kepastian dan keterbukaan regulasi diperlukan untuk memberikan ruang bagi inovasi sekaligus memastikan perkembangan teknologi tetap sejalan dengan kepentingan masyarakat Indonesia.
“Kami ingin memastikan regulasi yang disiapkan dapat dipahami dan diprediksi oleh para pemangku kepentingan, bukan menjadi kejutan bagi industri. Karena itu, proses penyusunannya perlu terbuka terhadap berbagai perspektif agar inovasi dapat berkembang dengan tetap memperhatikan pelindungan masyarakat,” ungkapnya.
USABC Tekankan Pentingnya Kemitraan Pemerintah dan Industri
CEO US-ASEAN Business Council Brian McFeeters menyampaikan bahwa kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital, terutama AI, yang berlangsung sangat cepat.
“Dibandingkan dengan bidang lain yang menjadi perhatian kami, isu digital merupakan bidang yang sangat membutuhkan kemitraan pemerintah dan sektor swasta. Kemitraan ini menjadi sangat penting karena perkembangan AI berlangsung dari minggu ke minggu,” ujar Brian.
Brian juga menyoroti kontribusi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di Indonesia melalui investasi, transfer pengetahuan, pendidikan, pengembangan keahlian, serta berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan.
Menurutnya, USABC telah menyiapkan laporan yang mendokumentasikan kontribusi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi dan kerja sama digital antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Kemkomdigi memandang kemitraan dengan USABC sebagai kesempatan untuk memperkuat kolaborasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia.
Melalui investasi yang disertai pengembangan kapasitas sumber daya manusia, transfer pengetahuan, serta tata kelola teknologi yang bertanggung jawab, pemerintah mendorong pertumbuhan ekosistem digital Indonesia yang produktif, inklusif, aman, dan tepercaya.
@ Media Cakra101 (MC101)
Sumber: Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Digital
Diterbitkan pada: 30 Oktober 2026
(MC101 – Biro Humas Komdigi)
Ringkasan Berita
- Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mendorong perusahaan teknologi Amerika Serikat memperluas investasi digital yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.
- Pemerintah mengarahkan transformasi digital melalui tiga prinsip, yaitu Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, dengan penekanan pada transfer pengetahuan dan pengembangan talenta.
- Pengembangan kecerdasan artifisial (AI) menjadi perhatian, termasuk kebutuhan kepastian regulasi, keamanan, pelindungan anak, dan data pribadi.
- CEO USABC Brian McFeeters menekankan pentingnya kemitraan pemerintah dan sektor swasta dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.
- Kemkomdigi mendorong kolaborasi investasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, transfer pengetahuan, dan tata kelola teknologi yang bertanggung jawab.



