YOGYAKARTA, Cakra101.com – Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., meresmikan Monumen Pesawat Fokker F-27 A-2701 “Kalong AMPUH” di Akademi Angkatan Udara (AAU) serta meresmikan Pesawat Fokker F-28 A-2801 sebagai koleksi Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala di Yogyakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Peresmian tersebut menjadi upaya melestarikan sejarah sekaligus mewariskan nilai pengabdian kepada generasi penerus TNI Angkatan Udara.
Dalam sambutannya, KASAU menyampaikan bahwa keberadaan kedua pesawat tersebut bukan sekadar menjadi koleksi sejarah, tetapi juga melambangkan dedikasi, pengorbanan, dan semangat perjuangan para pendahulu TNI Angkatan Udara.
“Keberadaan pesawat ini melambangkan dedikasi, pengorbanan, dan semangat perjuangan para pendahulu TNI Angkatan Udara. Monumen ini juga menjadi sarana edukasi agar generasi penerus mengetahui bahwa pesawat tersebut pernah dioperasikan dengan penuh pengabdian,” ungkap KASAU.
Fokker F-27 mulai mengabdi di TNI Angkatan Udara sejak 1976 dan menjadi salah satu tulang punggung mobilitas udara dalam berbagai Operasi Militer Perang maupun Operasi Militer Selain Perang. Selama 37 tahun masa pengabdiannya, pesawat tersebut mendukung berbagai operasi penting sebelum dipensiunkan pada 2013.
Kini, Fokker F-27 A-2701 diabadikan sebagai monumen di lingkungan Akademi Angkatan Udara (AAU) sebagai simbol perjalanan sejarah, dedikasi, dan pengabdian TNI Angkatan Udara. Sementara itu, Pesawat Fokker F-28 A-2801 resmi menjadi koleksi Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala.
Keberadaan monumen dan koleksi pesawat tersebut diharapkan menjadi media pembelajaran yang mampu menginspirasi generasi penerus untuk melanjutkan semangat juang, profesionalisme, serta pengabdian dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia.
(MC101 – Dispenau)
Ringkasan Berita:
- KASAU meresmikan Monumen Pesawat Fokker F-27 “Kalong AMPUH” di AAU dan Fokker F-28 sebagai koleksi Museum Dirgantara Mandala.
- Fokker F-27 mengabdi di TNI AU sejak 1976 hingga dipensiunkan pada 2013.
- Selama 37 tahun, pesawat tersebut mendukung berbagai Operasi Militer Perang dan Operasi Militer Selain Perang.
- Monumen menjadi simbol sejarah, dedikasi, dan pengabdian para pendahulu TNI Angkatan Udara.
- Keberadaannya diharapkan menginspirasi generasi penerus dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia.