YOGYAKARTA, Cakra101.com — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaksanakan uji penggunaan biodisel B50 pada sektor perkeretaapian di Yogyakarta, Senin (27/04/2026). Langkah ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan implementasi B50 secara nasional mulai awal Juli 2026, sekaligus memastikan kesiapan teknis sektor transportasi strategis nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan B50 merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mereduksi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), serta mendorong pemanfaatan energi alternatif di tengah dinamika global.
Menurut Bahlil, selama hampir enam bulan pemerintah telah melakukan uji coba B50 pada berbagai sektor, mulai dari alat berat, kapal, truk, hingga kini perkeretaapian. Hasil sementara menunjukkan performa yang cukup baik dan implementasi nasional ditargetkan mulai berjalan pada 1 Juli 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian uji coba B50 telah dimulai sejak 9 Desember 2025, mencakup sektor otomotif, pertambangan, alat pertanian, perkapalan, genset, hingga terakhir sektor perkeretaapian.
Uji coba di sektor kereta api dilakukan di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta dengan dua tahap pengujian. Tahap pertama berupa pengujian genset kereta untuk rute Yogyakarta–Jakarta selama 2.400 jam, sedangkan tahap kedua akan dilaksanakan pada lokomotif di Surabaya selama enam bulan.
Eniya optimistis hasil pengujian pada kereta api akan menunjukkan performa positif sebagaimana sektor otomotif. Meski demikian, evaluasi teknis tetap difokuskan pada kondisi filter mesin dan efisiensi operasional sebagai indikator utama keberhasilan implementasi.
Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI (Persero), Heru Kuswanto, menyatakan bahwa PT KAI mendukung penuh uji coba B50 sebagai bagian dari kontribusi sektor transportasi terhadap penguatan ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi hijau berkelanjutan.
Heru menekankan bahwa dukungan tersebut tetap mengedepankan keselamatan, keamanan, dan evaluasi teknis berkelanjutan guna menjaga keandalan sarana perkeretaapian nasional.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga menegaskan bahwa kebijakan implementasi B50 merupakan bagian dari agenda besar kemandirian energi nasional. Program ini dinilai berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil hingga 4 juta kiloliter melalui kesiapan blending yang telah disiapkan oleh Pertamina.
(MC101 – Biro KLI ESDM/Humas Kemensetneg)