JAKARTA, Cakra101.com — Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perang tarif dan dinamika geopolitik, perekonomian Indonesia dinilai tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Ketangguhan tersebut didukung oleh bauran energi nasional yang baik serta kebijakan fiskal yang dijalankan secara pruden dan terukur.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung saat memberikan kuliah umum di Institut Pertanian Bogor, Jumat (29/05/2026).
Menurut Wamenkeu, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketahanan energi karena mampu memproduksi berbagai sumber energi, mulai dari minyak, gas, biodiesel, bioenergi, hingga batu bara.
“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ungkap Juda.
Selain faktor energi, pemerintah juga menerapkan tiga strategi fiskal utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mempertahankan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi.
Strategi pertama adalah pengendalian belanja negara. Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi melalui berbagai kebijakan, termasuk mempertahankan harga BBM bersubsidi. Pada saat yang sama, pemerintah melakukan refocusing belanja ke sektor-sektor produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produksi, dan menciptakan lapangan kerja.
“Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Strategi kedua dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas sekaligus memperkuat penerimaan perpajakan melalui implementasi sistem Coretax yang diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan kepatuhan perpajakan.
Sementara itu, strategi ketiga berfokus pada pengelolaan pembiayaan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat, pemerintah mengarahkan pembiayaan melalui penerbitan surat utang dalam mata uang non-USD dengan tingkat bunga yang kompetitif.
Instrumen pembiayaan tersebut antara lain Samurai Bonds yang berdenominasi Yen Jepang (JPY), Dim Sum Bonds dalam mata uang Renminbi, serta Kangaroo Bonds yang menggunakan mata uang Dolar Australia.
Wamenkeu menjelaskan bahwa keberhasilan strategi fiskal tersebut tercermin pada kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026. Perekonomian nasional mampu tumbuh sebesar 5,61 persen, dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga pada 2,42 persen.
Selain itu, kondisi fiskal nasional juga menunjukkan performa yang sehat dengan defisit fiskal terkendali pada level 0,64 persen per April 2026, serta yield Surat Berharga Negara (SBN) dan spread yang tetap stabil.
“Empat indikator yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, dan yield SBN menunjukkan bahwa kondisi fiskal kita masih kuat. Strategi yang kita ambil bekerja dengan baik,” pungkas Wamenkeu Juda.
Pemerintah optimistis kombinasi kebijakan fiskal yang disiplin, pengelolaan energi yang kuat, dan strategi pembiayaan yang adaptif akan terus menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang dinamis.
(MC101 – Biro KLI Kemenkeu)