Beranda / Nasional / Kementerian PU Perkuat Mitigasi El Nino 2026 di Jawa Barat, Jaga Pasokan Air dan Ketahanan Pangan

Kementerian PU Perkuat Mitigasi El Nino 2026 di Jawa Barat, Jaga Pasokan Air dan Ketahanan Pangan

JAKARTA, Cakra101.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino 2026 di Provinsi Jawa Barat. Berbagai upaya antisipatif dilakukan sejak dini guna menjaga ketersediaan pasokan air, layanan irigasi, dan ketahanan pangan nasional selama musim kemarau.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi El Nino untuk memperkuat koordinasi lintas unit organisasi di lingkungan Kementerian PU. Menurutnya, penanganan El Nino harus dilakukan secara terpadu karena dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi layanan penyediaan air minum dan operasional infrastruktur sumber daya air.

“Untuk mengantisipasi El Nino, kami membentuk Satgas. Karena yang terdampak tidak hanya irigasi dan sawah yang kekeringan, tetapi mungkin di beberapa titik SPAM dan bendungan juga akan mengalami kekeringan,” kata Menteri Dody.

Sebagai langkah kesiapsiagaan, BBWS Cimanuk Cisanggarung mengoptimalkan sistem mitigasi melalui Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK). Sistem tersebut mengintegrasikan pemantauan kondisi bendungan, bendung, daerah rawan kekeringan, pengaturan operasi air, layanan call center, Tim Reaksi Cepat (TRC), hingga koordinasi lintas instansi agar setiap potensi gangguan terhadap layanan air dapat ditangani secara cepat dan tepat.

Sebanyak 290 personel disiagakan selama musim kemarau untuk memastikan seluruh prasarana sumber daya air tetap berfungsi optimal. Pemantauan dilakukan setiap hari terhadap 9 bendungan, 33 embung, 23 situ, 25 bendung, serta jaringan irigasi di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Hingga 30 Juni 2026, kondisi sembilan bendungan, yakni Bendungan Jatigede, Cipanas, Darma, Kuningan, Malahayu, Setupatok, Sedong, Bolang, dan Rancabeureum, memiliki total volume tampungan air sekitar 1,10 miliar m³, sehingga masih mampu mendukung kebutuhan air irigasi untuk sekitar 136.254 hektare lahan pada musim kemarau.

Dalam pengoperasiannya, pelepasan air dari bendungan dilakukan secara terukur dengan menyesuaikan kondisi tampungan serta kebutuhan di lapangan. Langkah tersebut bertujuan menjamin suplai air irigasi, penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sekaligus menjaga keseimbangan cadangan air selama musim kemarau. Seluruh data elevasi, volume tampungan, dan debit pengeluaran air dipantau setiap hari sebagai dasar pengoperasian tampungan air.

Perkuat Jaringan Irigasi

Selain menjaga ketersediaan air, Kementerian PU juga memperkuat jaringan irigasi untuk mendukung produktivitas pertanian. Pada TA 2025, upaya tersebut dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi utama di 69 lokasi, peningkatan jaringan irigasi tersier melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di 441 lokasi, pelaksanaan Inpres Percepatan Pembangunan Irigasi di 69 lokasi, serta pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di 45 lokasi. Berbagai program tersebut diharapkan mampu meningkatkan keandalan layanan irigasi sehingga pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga selama musim kemarau.

Sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan iklim, BBWS Cimanuk Cisanggarung juga mendorong penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA). Metode ini menerapkan sistem pemberian air secara intermittent sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Penerapan IPHA diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan air, memperluas indeks pertanaman, sekaligus meningkatkan hasil produksi dan pendapatan petani.

Kementerian PU juga telah menyiapkan berbagai skenario penanganan apabila kekeringan terjadi. Sebanyak 58 unit peralatan disiagakan yang terdiri atas 16 excavator, dump truck, trailer, mobil pompa, mobil tangki air, pompa air, pompa tenaga surya, mesin bor, serta peralatan geolistrik. Peralatan tersebut didukung berbagai langkah penanganan seperti distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, penyiraman lahan dengan sprinkler, pemanfaatan pompa air dan flood pump, survei geolistrik untuk mencari sumber air bawah tanah, hingga pembangunan sumur bor di wilayah yang mengalami kesulitan air.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian PU menegaskan bahwa mitigasi ancaman El Nino dilakukan sejak dini melalui pengelolaan infrastruktur sumber daya air yang terintegrasi, penguatan sistem operasi bendungan, waduk, dan irigasi, serta kesiapan personel dan peralatan guna menjaga layanan air dan mendukung ketahanan pangan nasional.

(MC101 – Biro Komunikasi Publik Kementerian PU)

Ringkasan Berita:

  • Kementerian PU memperkuat mitigasi El Nino 2026 di Jawa Barat melalui pembentukan Satgas Antisipasi El Nino.
  • Sebanyak 290 personel dan 58 unit peralatan disiagakan untuk menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau.
  • Hingga 30 Juni 2026, sembilan bendungan memiliki volume tampungan sekitar 1,10 miliar m³ yang mampu mendukung irigasi sekitar 136.254 hektare.
  • Kementerian PU memperkuat jaringan irigasi melalui rehabilitasi, P3TGAI, Inpres Percepatan Pembangunan Irigasi, dan pembangunan JIAT.
  • Teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA) terus didorong untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Tag:

Jelajahi Militer

Hot Topic