Beranda / Nasional / Menlu Sugiono: “Multilateralisme Tidak Bisa Berjalan Sendiri di Tengah Ketidakpastian Global”

Menlu Sugiono: “Multilateralisme Tidak Bisa Berjalan Sendiri di Tengah Ketidakpastian Global”

JAKARTA, Cakra101.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme agar tetap mampu bekerja di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam pidato kunci pada Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-10 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta, 9 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Menlu Sugiono menekankan bahwa politik luar negeri bebas aktif bukan hanya tetap relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan untuk menghadapi dinamika geopolitik global saat ini. Di tengah dunia yang diwarnai rivalitas strategis dan fragmentasi, prinsip bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan sikap secara mandiri sekaligus tetap aktif berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia.

“Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya,” jelas Menlu Sugiono.

Menlu juga menggarisbawahi bahwa kelemahan sistem multilateral saat ini tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan multilateralisme. Sebaliknya, sistem tersebut perlu diperbaiki agar menjadi lebih representatif, inklusif, adaptif, dan efektif.

“Tata kelola global yang dibangun pada 1945 perlu terus diperbarui agar tetap relevan dalam menghadapi realitas dunia tahun 2045,” ujar Menlu Sugiono.

Dalam konteks tersebut, Indonesia akan terus mempertahankan dan memperbaiki sistem multilateralisme dengan mendorong reformasi tata kelola global, termasuk Dewan Keamanan PBB agar lebih transparan, demokratis, efektif, dan akuntabel.

“Partisipasi di BRICS, peran aktif di G20, kepemimpinan di ASEAN, keterlibatan di D-8 dan dengan Global South, serta proses aksesi menuju OECD, semuanya merupakan bagian dari prinsip yang sama yaitu memperluas ruang strategis diplomasi Indonesia,” jelas Menlu Sugiono.

Menlu Sugiono juga menegaskan bahwa diplomasi yang efektif harus ditopang oleh ketahanan nasional yang kuat. Menurutnya, kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh diplomasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga ketahanan di berbagai sektor strategis.

“Ketahanan pangan adalah otonomi strategis. Ketahanan energi adalah keamanan nasional. Sumber daya manusia adalah kapasitas geopolitik. Dan teknologi bukan hanya inovasi, tetapi juga kekuatan,” tegas Menlu Sugiono.

Menutup pidatonya, Menlu Sugiono kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk terus hadir dan mempertahankan multilateralisme sebagai instrumen penting dalam menjaga stabilitas dan kerja sama global.

“Multilateralisme masih dapat bekerja, tapi tidak bisa berjalan secara autopilot,” pungkas Menlu Sugiono.

Jakarta Geopolitical Forum (JGF) merupakan forum tahunan yang diselenggarakan Lemhannas RI untuk membahas berbagai isu geopolitik global. Forum ini mempertemukan peserta dari kalangan pemerintah, militer, akademisi, think tank, organisasi internasional, swasta, dan media guna memperkuat dialog serta mencari solusi atas berbagai tantangan geopolitik dunia.

(MC101 – Ditjen IDP Kemlu)

Ringkasan Berita:

  • Menlu Sugiono menegaskan Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme di tengah meningkatnya fragmentasi global.
  • Politik luar negeri bebas aktif dinilai semakin relevan dalam menghadapi rivalitas strategis dunia.
  • Indonesia terus mendorong reformasi tata kelola global, termasuk Dewan Keamanan PBB yang lebih transparan dan demokratis.
  • Keterlibatan Indonesia di BRICS, G20, ASEAN, D-8, Global South, dan proses aksesi OECD merupakan bagian dari perluasan ruang strategis diplomasi.
  • Menlu menekankan bahwa multilateralisme masih dapat bekerja, tetapi tidak bisa berjalan secara autopilot.
Tag:

Media Sosial

Jelajahi Militer

Hot Topic