BANDUNG, Cakra101.com — Curah hujan yang masih berlangsung hingga April 2026 dinilai membuka peluang peningkatan indeks pertanaman di berbagai wilayah Indonesia, di tengah dinamika iklim yang tidak menentu, pada Jumat (17/04/2026).
Ketua DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmaja menyampaikan bahwa kondisi hujan yang masih terjadi tidak menjadi hambatan, melainkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan intensitas masa tanam petani.
“Dalam kondisi normal, petani biasanya hanya menanam dua kali dalam setahun. Namun dengan kondisi saat ini, ada peluang untuk meningkatkan indeks pertanaman,” jelasnya.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kondisi iklim yang dinamis, sektor pertanian diyakini tetap mampu menjaga stabilitas produksi sekaligus mengoptimalkan masa tanam di berbagai daerah. Terlebih, Indonesia pada 2025 telah berhasil mencapai swasembada beras.
Hingga pertengahan April 2026, cadangan beras pemerintah tercatat mencapai 4,7 juta ton, dan diproyeksikan terus meningkat seiring berlangsungnya musim panen raya hingga Mei mendatang.
Meski potensi El Nino diperkirakan akan terjadi, Entang tetap optimistis terhadap produksi nasional. Hal ini didukung oleh kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi perubahan iklim, termasuk melalui penguatan sistem irigasi dan penyediaan pompa air.
“Seluruh langkah tersebut dilakukan agar pasokan air selama musim kemarau tetap terjaga, sehingga petani dapat terus berproduksi dengan tenang,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai langkah mitigasi tersebut membuat potensi kemarau panjang tidak akan berdampak signifikan terhadap produksi pertanian nasional.
Petani optimistis bisa tanam hingga tiga kali
Optimisme juga datang dari para petani di lapangan. Kondisi hujan yang masih turun pada April justru dinilai mampu memperpanjang masa tanam dan meningkatkan frekuensi panen.
Miftahur Rohim, petani asal Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyebut petani tadah hujan tetap memiliki peluang panen hingga tiga kali dalam setahun.
“Petani tadah hujan tetap bisa memperoleh tiga kali masa panen walaupun dengan cuaca ekstrem,” ujarnya.
Optimisme tersebut turut didukung oleh keberadaan koperasi yang menyediakan pupuk bersubsidi, meski petani tetap berharap ketersediaan pupuk dapat terus terjaga.
Sementara itu, Abdul Azhim, petani asal Sulang, Jawa Tengah, menilai kondisi cuaca tahun ini berbeda dari biasanya karena hujan masih terjadi saat seharusnya memasuki musim kemarau.
Ia menekankan pentingnya informasi cuaca yang akurat dan mudah dipahami, mengingat kebutuhan sektor pertanian berbeda dengan sektor lainnya.
“Kebutuhan ramalan cuaca untuk pertanian berbeda dengan nelayan. Petani memerlukan informasi yang rasional dan mudah dipahami,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mendorong penyediaan data komoditas nasional yang lebih valid guna menghindari kelebihan produksi yang dapat berdampak pada harga. Peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) dinilai penting dalam memperkuat distribusi informasi tersebut.
Dengan kondisi ini, sektor pertanian dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.
(MC101 – Humas Kementan)